Empat Tahun Bersamamu, Ziyan
Empat tahun yang lalu adalah tahun yang penuh haru sekaligus kebahagiaan. Tahun ketika seorang anak laki-laki lahir dari rahimku, membawa cinta yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Ia adalah anak yang kuat dan tabah sejak dalam kandungan.
Sembilan bulan lamanya, Ziyan setia menemaniku bekerja. Ikut bergerak dari satu rumah ke rumah lainnya, menjalani pekerjaan lapangan dengan berbagai cerita dan persoalan sosial. Bahkan hingga usia kandungan 40 minggu, aku masih aktif bekerja. Bisa dibayangkan betapa padat dan melelahkannya hari-hari itu. Namun Ziyan bertahan dengan luar biasa. Anak kecil yang kelak kami beri nama Fakhruna Ziyan Sabchala.
Sejak lahir, Ziyan bukanlah bayi yang rewel. Saat itu aku mendapat waktu cuti dua bulan setelah melahirkan. Ketika masa cuti selesai dan aku kembali bekerja, alhamdulillah Ziyan seolah memahami bahwa ibunya harus berbagi waktu antara rumah dan pekerjaan. Begitu pula dengan bapaknya. Saat Ziyan lahir, bapaknya sudah resmi bekerja di Kabupaten Demak, dan kami belajar bersama menjalani peran baru sebagai orang tua.
Memasuki masa MPASI, Ziyan pun anak yang mudah diarahkan. Karena aku seorang ibu bekerja, sejak awal aku membiasakan Ziyan sarapan pukul enam pagi. Artinya, sebelum jam enam aku harus sudah menyiapkan segalanya: membagi makanannya untuk tiga kali makan, lalu setelah sarapan ia langsung mandi. Pola kegiatan ini kami jalani konsisten sejak kecil hingga sekarang.
Sejak awal pula, aku membiasakan Ziyan mengonsumsi makanan keluarga yang diolah menyesuaikan usianya, dengan tambahan sayur dan camilan buah. Alhamdulillah, kebiasaan ini tumbuh menjadi pola hidup yang baik.
Lebih dari itu, kehadiran Ziyan adalah ruang belajar yang sangat luas bagi kami sebagai orang tua. Dari dirinya, kami belajar tentang sabar, ketika lelah dan emosi harus diredam. Kami belajar disiplin, karena anak meniru apa yang ia lihat, bukan sekadar apa yang ia dengar. Kami belajar konsistensi, bahwa aturan yang dijalani dengan cinta akan lebih mudah diterima anak. Kami belajar mengelola emosi, berkomunikasi dengan lembut, memberi contoh yang baik, serta mengasuh dengan penuh kesadaran, bukan sekadar menjalankan rutinitas. Kami pun belajar bahwa mengasuh anak adalah proses bertumbuh bersama, anak belajar menjadi dirinya, dan orang tua belajar menjadi lebih bijak setiap hari.
Aku semakin percaya bahwa kebiasaan baik yang ditanamkan sejak dini akan tumbuh menjadi karakter yang baik pula di kemudian hari. Alhamdulillah.

Posting Komentar