Aku Sudah Berikhtiar, Sisanya Adalah Takdir Allah
Ketika Rencana Persalinan Tidak Berjalan Sesuai Harapan
Hallo semuanya, sudah lama ya tidak menulis lagi.. Hari ini tepat satu minggu sejak putri kedua kami lahir ke dunia.
Entah mengapa, pagi ini saya menangis. Bukan karena menyesali kehadirannya. Justru karena saya sangat bersyukur ia lahir dengan selamat. Namun ketika mengingat kembali proses persalinan yang kami lalui, masih ada rasa haru yang sulit dijelaskan.
Selama hamil, saya berusaha mempersiapkan persalinan sebaik mungkin. Saya mengikuti kelas ibu hamil bersama Bidan Kita, belajar dari Bumil Pamil, rutin bergerak, berolahraga, dan menjaga kondisi tubuh. Saya berharap bisa melahirkan secara pervaginan. Terlebih, pada persalinan pertama saya juga berakhir dengan operasi caesar cito. Saat itu posisi bayi belum optimal, saya menjalani induksi, ketuban sudah habis, namun pembukaan tidak kunjung bertambah. Pengalaman itulah yang membuat saya berusaha menjaga kehamilan kedua sebaik mungkin agar proses persalinan pertama tidak terulang kembali. Alhamdulillah, selama kehamilan kedua kondisi saya dan bayi terpantau baik. Posisi janin sudah bagus, perkembangan kehamilan berjalan normal, dan tidak ada masalah berarti. Namun menjelang persalinan, justru detak jantung janin yang terus meningkat menjadi alasan mengapa operasi caesar cito kembali harus dilakukan.
Ketika kontraksi datang, saya juga berusaha menjalaninya dengan tenang. Namun kenyataan berkata lain.
Sejak sekitar pukul 23.30 hingga menjelang pukul 06.00 pagi, pembukaan saya masih berada di angka satu. Di saat yang sama, detak jantung janin yang seharusnya berada pada kisaran 120–160 kali per menit justru terus berada di angka 160–180 kali per menit.
Saya dipasangi oksigen. Aliran oksigen ditingkatkan. Setiap sekitar sepuluh menit kondisi bayi terus dipantau. Saya masih berharap hasil observasi berikutnya akan lebih baik.
Namun harapan itu tidak terjadi.
Detak jantung bayi tidak kunjung turun. Justru tetap tinggi.
Awalnya saya masih berpikir akan menunggu dokter spesialis kandungan datang dan melakukan observasi lanjutan pada sore hari. Mungkin masih ada kesempatan untuk melahirkan secara pervaginan.
Ternyata Allah memiliki rencana lain.
Siang itu kami mendapat penjelasan bahwa operasi caesar cito harus segera dilakukan. Tidak bisa ditunda lagi. Semua proses berlangsung cepat. Tim medis mulai mempersiapkan segala sesuatu. Saya yang sebelumnya membayangkan persalinan pervaginan, harus menerima kenyataan bahwa anak saya akan lahir melalui sayatan operasi.
Jujur, ada sedih yang sempat muncul.
Saya bertanya-tanya dalam hati, "Mengapa harus operasi? Mengapa tidak bisa seperti banyak ibu lain yang melahirkan pervaginan?"
Kadang saya iri melihat cerita mereka yang proses persalinannya berjalan sesuai harapan.
Namun ketika mengingat kembali detik-detik itu, saya sadar bahwa keputusan tersebut bukan tentang keinginan saya. Bukan tentang gengsi metode persalinan. Bukan tentang berhasil atau gagal.
Keputusan itu diambil untuk menyelamatkan bayi saya.
Dan ketika keselamatan anak dipertaruhkan, tidak ada pilihan yang lebih penting selain menerima dan mempercayai keputusan dokter yang menangani kami.
Hari ini, saat melihat wajah mungilnya yang tertidur pulas, saya mengerti satu hal.
Tugas saya adalah berikhtiar sebaik mungkin. Dan saya sudah melakukannya.
Saya sudah belajar, berolahraga, mengikuti kelas, menjaga kehamilan, dan mempersiapkan diri semampu saya.
Sisanya adalah takdir Allah.
Qadarullah, jalan lahir anak saya bukan melalui persalinan pervaginan yang selama ini saya bayangkan. Qadarullah, ia lahir melalui operasi caesar yang tidak pernah saya rencanakan.
Dan tidak apa-apa.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan bagaimana ia lahir. Yang paling penting adalah ia lahir dengan selamat.
Alhamdulillah, tepat satu minggu yang lalu Allah menitipkan amanah yang begitu berharga kepada kami. Kami memberinya nama Nilna Ainas Sabchalah. Semoga ia tumbuh menjadi anak yang salehah, sehat, kuat, bermanfaat bagi sesama, serta selalu berada dalam lindungan dan kasih sayang Allah. Selamat datang di dunia, Nak. Kehadiranmu adalah jawaban dari banyak doa dan penantian kami.

Posting Komentar